oleh

Selamatkan UMKM dari Dampak Pandemi

SatuTinta.com, Bengkulu – Setelah terpukul akibat pandemi covid-19, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menghadapi sejumlah kendala besar untuk dapat pulih dan kembali dalam kondisi normal, terutama sekali dalam hal permodalan dan pemasaran.

Dua kendala tersebut membuat sektor yang mendominasi lebih dari 90 persen jumlah pekerja di Indonesia ini belum terlalu tersambung dengan rantai perdagangan global.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief menuturkan, UMKM adalah tulang punggung ekonomi bangsa. Menurutnya, membiarkan UMKM ngos-ngosan untuk kembali bangkit dari keterpurakan akibat pandemi covid-19 sama saja membiarkan ekonomi bangsa jatuh.

“Namanya tulang punggung, kalau nggak tegak berarti jatuh. Saya tidak terlalu tahu data UMKM yang kurang permodalan, namun kalau kurang pemasaran, bisa jadi. Rekomendasi saya untuk kementerian terkait, tambah program untuk UMKM, tambah anggaran bantuannya,” kata Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini menjelaskan, program-program tersebut perlu agar UMKM yang ada dapat memutar kembali barang dagangan mereka yang sebelumnya mengalami penurunan omzet dan terbatasnya akses pasar akibat pembatasan sosial.

“Adapun program-program yang memang telah ditetapkan, sosialisasi secara luas dan berikan kepada mereka yang memang benar-benar layak mendapatkan bantuan. Banyaknya jumlah penerima dan ketepatan sasaran penyaluran kunci untuk membuat kondisi UMKM kembali stabil,” ungkap Hj Riri Damayanti John Latief.

Mantan Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini berharap pemerintah dapat senantiasa melibatkan partisipasi aktif organisasi UMKM dalam setiap program-program yang disusun.

“Dalam kondisi seperti sekarang semua elemen masyarakat mau nggak mau harus saling bergotong royong untuk mencapai kondisi yang ideal bagi pertumbuhan ekonomi,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Data terhimpun, terdapat 116 juta jiwa tenaga kerja di Indonesia yang bekerja dalam sekitar 64 juta UMKM sebagaimana data Kementerian Koperasi dan UMKM pada 2018.

Dari jumlah tersebut, pelaku usaha mikro merupakan mayoritas dengan 63,4 juta atau 98,68 persen dari total UMKM, pelaku usaha kecil 783.132 (1,22 persen), pelaku usaha menengah 60.702 (0,09 persen), dan pelaku usaha besar 5.550 (0,01 persen).

Meski mayoritas merupakan pelaku usaha mikro, namun UMKM Indonesia pernah menunjukkan kehebatannya bertahan dari badai krisis ekonomi 1998 dan 2008 ketika banyak perusahaan besar bangkrut dan melakukan PHK secara besar-besaran. [MM]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed