oleh

Melalui PRIMA, STN Perjuangkan Nasip Petani

SatuTinta.com, Palembang Bertempat di café Rempah Lawas Jln. Sei Pangeran Dwikora I Palembang, tanggal 3 Mei 2021, Pimpinan Wilayah Serikat Tani Nelayan (STN) Sumatera Selatan melakukan kegiatan diskusi ramadhan dan buka puasa bersama dengan tema Impor Pangan dan Kedaulatan Petani.

Pemantik diskusi dilakukan oleh Pimpinan Perum BULOG Divisi Regional Sumsel Babel yang dalam hal ini diwakili oleh Kabid Pengadaan ibu Ninik  Laswati, diskusi yang semula juga akan dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Bapak R Bambang Pramono sebagai salah satu pemantik, melalui telpon protocol nya menyatakan tidak bisa hadir karena masih ada rapat di Pemerintahan Provinsi Sumsel.

Diskusi ramadhan dan buka puasa bersama dengan tema Impor Pangan dan Kedaulatan Petani, dihadiri oleh ketua – ketua dari berbagai organisasi petani, mahasiswa, buruh dan kelompok prodemokrasi serta dihadiri oleh DPK PRIMA Kota Palembang dan beberapa DPKC nya. M Asri Lambo, ketua Masyarakat Sadar Wisata sebagai Moderator dalam diskusi ini juga cukup membawa diskusi semakin semarak dan hidup.

Diskusi yang berjalan selama 2 jam sembari menunggu berbuka puasa bersama, tetap berjalan dengan semangat ditengah dahaga haus dan lapar. Dalam diskusi tersebut disampaikan oleh Ibu Ninik Laswati terkait tentang permasalahan impor beras dan beberapa program BULOG terutama terkait dengan metoda penyaluran pangan BULOG melalui Rumah Pangan Kita.

“sebagai perum, BULOG memiliki beberapa program yang bisa dikerjasamakan dalam konteks penyaluran pangan, seperti beras, gula, tepung terigu, daging dll”, papar bu Ninik.

“BULOG dapat menjalin kemitraan dengan masyarakat, melalui program Rumah Pangan, dimana masyarakat yang telah menjadi mitra, dengan harga murah membeli dengan BULOG kemudian menjual kembali dengan harga eceran tertinggi, sehingga harga yang ada tetap murah dan masih bisa dijangkau oleh masyarakat pembeli”, tambah bu Ninik, yang kerap ramah dalam berdiskusi.

Ketua Serikat Tani Nelayan (STN) Sumatera Selatan Rio Solehuddin, ST yang juga menjadi pemantik diskusi menyampaikan beberapa point terkait kondisi sector pertanian di Indonesia berdasarkan data BPS mencatat sepanjang April – Juni 2020 sektor pertanian tumbuh 2,19% (yoy).

Kontribusi sector pertanian terhadap PDRB ditengah masa pandemic covid-19 pada tahun 2020 sebesar 15,46% menjadi sector terbesar kedua, dan mengacu pada outlook ekonomi pertanian 2021, sector pertanian diproyeksikan tumbuh sebesar 3,30% – 4,27%. Dimana nilai tukar usaha pertanian nasional (NTUP) pada Desember 2020 tercatat naik 0,70% menjadi 104%, akan tetapi untuk NTUP sub sector tanaman pangan turun 0,19% dari sebelumnya 101,34% menjadi 101,14%.

“kehidupan para petani utamanya untuk tanaman pangan, seperti padi masih jauh dari berkecukupan, dimana masih banyak petani yang menggarap sawah di berbagai daerah merupakan buruh tani yang berpenghasilan rendah, dan pada kondisi rill para petani yang ada di Indonesia merupakan petani dengan skala kecil dan memiliki nilai ekonomis sangat rendah, dengan harga pupuk yang tinggi, serta jual produk pertanian yang tidak menentu bahkan secara jangka panjang sector pertanian akan menjadi sector yang tidak menjanjikan”, jelas Rio.

“yang kemudian menjadi aneh, bahwa kebijakan pemerintah seakan akan tidak memiliki rasa keberpihakan terhadap kaum tani, terutama petani padi,” kembali Rio menekankan.

“contoh impor beras sebanyak 1 juta ton yang di keluarkan oleh pemerintah pada bulan Maret 2021, tepat pada saat petani padi di Indonesia, yang dalam siklus tahunan terjadi panen besar yaitu pada setiap bulan Maret – April pada setiap tahunnya, hal ini membuat harga GKP dan GKG ditingkatan petani melesat turun, jauh dari harga untung malah buntung”, kembali Rio menyampaikan.

Diskusi Ramadhan STN “Impor Pangan dan Kedaulatan Petani”

Sedangkan dalam pendapatnya Kabid pengadaan Perum BULOG DIVRE Sumsel Babel, menyampaikan kebijakan impor itu berdasarkan patokan stok barang di gudang BULOG.

“pemerintah melakukan kebijakan impor berdasarkan stok yang ada di gudang BULOG, jika dalam kajian nya akan kurang, maka kebijakan impor pangan dilakukan”, jelas bu Ninik.

Untuk itu perlu bantuan dari instasi terkait, serta masyarakat dan juga bisa dilakukan oleh serikat tani dalam menjelaskan katagori beras yang masuk dalam standar BULOG sehingga dapat diserap oleh BULOG, sehingga ketika gudang BULOG penuh, maka kebijakan impor beras tidak akan terjadi”, tambah bu Ninik.

Menjelang waktu buka puasa, Pimpinan Wilayah Serikat Tani Nelayan (STN) Sumatera Selatan yang telah dikukuhkan melalui Surat Keputusan Pimpinan Pusat Serikat Tani Nelayan No : 010/PP.STN/PW.STN.SUMSEL/A/IV/2021 tanggal 27 April 2021 tentang Penetapan Struktur Pimpinan Wilayah Serikat Tani Nelayan Provinsi Sumatera Selatan menyampaikan bahwa akan memajukan perjuangan politik kaum tani, yang mana telah diputuskan berdasarkan kongres STN ke 8 pada 28 Februari 2021 di Jakarta yang dilakukan secara online, untuk bergabung dengan partai alternative Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA).

“STN Sumsel akan membentuk struktur Pimpinan Kabupaten/Kota sampai ketingkatan desa di provinsi Sumatera Selatan, agar dapat memenangkan PRIMA dalam pemilu 2024 nanti”, tegas Rio Solehuddin mantap.

“kami percaya dan yakin, bahwa sudah saatnya kaum tani memiliki partainya sendiri agar bisa duduk di DPR untuk bisa membuat kebijakan yang mementingkan kaum tani, sudah waktunya ada partai politik di negara ini yang serius dan wajib memperjuangkan nasib petani yang masih banyak miskin, dan Partai Rakyat Adil Makmur sebagai partai rakyat yang salah satunya memiliki visi dan misi memperjuangkan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, menaikkan harkat serta martabat rakyat petani dan kemanusian, sama dengan keinginan petani yang ada di negeri ini”, tutup Rio dengan yakin.  (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed