oleh

Perlu Inovasi Bangkitkan Sektor Pertanian

SatuTinta.com, Bengkulu – Krisis regenerasi petani muda dinilai sebagai tantangan bagi keberlanjutan sektor pertanian Indonesia. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, jumlah petani menurun, dan petani muda hanya 6% (2,7 juta) dari total petani Nusantara yang berjumlah 33,4 juta

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan penurunan ini dapat menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Untuk itu perlu adanya regenarasi berkelanjutan agar pertanian Indonesia tetap terjaga, sehingga swambada pangan yang dicita-citakan dapat terwujud.

“Perlu adanya inovasi dan kreativitas agar pertanian menarik bagi generasi muda. Seperti penerapan teknologi pertanian modern menjadi salah satu solusinya,” ungkap Riri Damayanti.

Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini meyakini bahwa sektor pertanian bisa diandalkan untuk memulihkan perekonomian. Dia meminta, agar Pemerintah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk menggerakan sektor pertanian.

“Dari luas wilayah dan jumlah penduduk yang banyak saya yakin akan bisa terwujud sekaligus sebagai dasar untuk pemulihan ekonomi masyarakat,” katanya.

“Apalagi masih banyak lahan tidur yang tidak tergarap. Jika lahan itu dapat dibangkit menjadi lahan yang produktif, saya yakin pertanian di Bengkulu akan lebih maju,” tambahnya.

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini berharap kekompakkan dan andil semua pihak untuk ikut serta mengerem laju alih fungsi lahan kecuali untuk kepentingan umum dan/atau proyek strategis nasional.

“Kalau ada kendala-kendala dalam mewujudkan ketahanan pangan ini, DPD dengan tangan terbuka siap menerima aspirasi dan berpartisipasi mengurainya secara regulasi. Saya berharap ada saran-saran agar kedepan semua petani bisa sejahtera, pangan kita berjaya,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed